Minggu, 27 November 2016

suku Dayak di Kapuas Hulu
Di daerah kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat banyak dihuni beragam etnis dayak yang hidup dalam kelompok masing-masing dengan budaya dan tradisi yang telah berjalan lama sejak ratusan tahun bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu.

Diduga kehadiran suku-suku Dayak di wilayah ini datang dalam 3 gelombang.
Migrasi dalam gelombang pertama diperkirakan datang dari arah barat (kemungkinan berasal dari hilir sungai Kapuas dan anak-anak sungai, seperti sungai Sekayam, Ketungau dan Sekadau). 
Suku-suku Dayak tersebut adalah:
Þ    Seberuang,
Þ    Ensilat,
Þ    Iban,
Þ    Kantuk’,
Þ    Tamanik,
Þ    Desa,
Þ    Sekapat,
Þ    Suaid,
Þ    Mayan,
Þ    Sebaru’,
Þ    Rembay, dan 
Þ    Ulu aik’.
Migrasi dalam gelombang kedua diperkirakan berasal dari arah timur daerah Data Purah, Apo Kayaan yang menghasilkan 3 suku Dayak yaitu:
Þ    Punan,
Þ    Buket dan
Þ    Kayaan Mendalam.
Migrasi ketiga diduga juga berasal dari timur, yaitu sungai Kayaan. Kelompok ini tidak langsung ke Kalimantan barat, melainkan menuju sungai Mahakam kemudian menyebar ke hulu sungai Melawi. Dari hulu sungai melawi inilah kemudian menyebar lagi ke hulu sungai Manday, sungai Suru’, dan sungai Mentebah hingga ke Kapuas.
Pada gelombang ketiga ini terdiri dari:
Þ    Orung Da’an,
Þ    Suru’ dan
Þ    Mentebah.
Gambaran migrasi kelompok suku Dayak di Kapuas Hulu pada hakikatnya tidak bersamaan waktu penyebarannya. Misalnya Dayak Iban yang dikelompokkan pada kelompok pertama, tidak langsung ke Kapuas Hulu tetapi kelompok ini memilih Sungai Batang Rejang di Malaysia. Setelah suku ini ditaklukkan oleh raja “white” Brooke, baru kemudian melakukan migrasi besar-besaran ke wilayah Kapuas Hulu. Sedangkan kelompok Dayak Sekapat, Sebaru’ dan Desa diyakini paling terakhir menyebar di kabupaten ini.
Gambaran penyebaran ini hakikatnya masih perlu di uji dan memerlukan kajian lebih lanjut.
Suku Dayak di kabupaten Kapuas Hulu atau seringkali disebut Dayak Ulu Kapuas keberadaanya sama dengan beberapa suku Dayak di kabupaten lain di Kalimantan Barat, yaitu sebagai penduduk asli pulau Kalimantan. Sebagai kelompok mayoritas suku Dayak di kabupaten ini diperkirakan sudah mendiami wilayah hulu sungai Kapuas ini sejak tahun 300-an, sebelum peristiwa perang antara manusia dengan roh halus di Tanah Tampun Juah yang menyebabkan “migrasi besar-besaran”.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqNZyDqXvU5Q95he5lDzyEpRJmOv400bQyV0PIRtn46Oqrm2KLvHPCaBxddJCYAT6WmWFMnq5X_y5N0iQBxC7p0FGtWcR023qdsNJq-hRSXudEtNOGd7eC3ydOR7AM9f5PHZe2ooNTEcSx/s200/dayak+taman.jpg
suku Dayak Taman
Beberapa subsuku yang mengisahkan tentang asal-usul mereka dari Tampun Juah adalah Dayak Kantu’, Seberuang, dan juga Rembay. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai peristiwa sejarah dan perkembangannya, misalnya perluasan wilayah Kerajaan Sintang di Selimbau dan Semitau serta masa penjajahan Belanda.
Kelompok masyarakat dayak sebelum berdirinya panembahan-panembahan Kerajaan Sintang dan datangnya para penjajah, umumnya masih menganut agama leluhur mereka. Namun agama ini acapkali dianggap sebagai animisme, berhala, dan sebagainya. Kerajaan Sintang yang memperluas wilayah kekuasaannya dengan mendirikan panembahan-panembahan di wilayah hulu Kapuas juga menyebarkan agama Islam. Hal ini membuat kelompok suku Dayak dihadapkan pada pilihan sulit untuk menganut agama yang baru.
Agama Islam pada saat itu cukup berpengaruh seiring berdirinya kerajaan-kerajaan kecil yang berlandaskan Islam. Kelompok suku-suku Dayak dihadapkan pada pilihan “jika menganut agama Islam", kelompok suku Dayak terbebas dari perbudakan dan kewajiban membayar upeti kepada kerajaan. Namun tanpa disadari menganut agama Islam di Kalimantan Barat selalu diidentikkan dengan Melayu. Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar terjadi penolakan jati dirinya. Dilihat dari aspek kultural kelompok Dayak yang telah menjadi muslim meninggalkan kultur budayanya dan meninggalkan identitas "dayak" nya, lama kelamaan sikap itu mengkristal sehingga melahirkan identitas baru yang disebut Senganan. Sedangkan yang tidak menerima Islam disebut sebagai "dayak" yang dimaknai sebagai kelompok masyarakat pribumi Kalimantan Barat non Muslim. Saat ini masyarakat Dayak sebagian besar telah memeluk agama Kristen tetap dengan status "dayak"nya.
Mengenai keragaman suku Dayak di Kapuas Hulu dari hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan di seluruh wilayah kabupaten Kapuas Hulu adalah sebagai berikut: 
·         Suaid, 
·         Kantu’, 
·         Seberuang,
·         Kalis,
·         Lau’,
·         Suruk’,
·         Mentebah,
·         Tamambalo,
·         Ensilat,
·         Mayan, 
·         Sekapat, 
·         Desa,
·         Punan,
·         Buket,
·         Taman,
·         Kayaan,
·         Rembay,
·         Sebaru’,
·         Iban,
·         Oruung Da’an.
·         Senganan (dayak muslim)
sumber:
- buku Mozaik Dayak “keberagaman subsuku dan bahasa Dayak di Kalimantan barat"
napannumut
wikipedia
peacedamaimembuatkitanyaman
ceritadayak
- dan sumber lain
CERITA LEGENDA BUKIT KELAM DI DAERAH SINTANG

Alkisah, di Negeri Sintang, Kalimantan Barat, hiduplah dua orang bersaudara dari keturunan dewa yang memiliki kesaktian tinggi, namun keduanya memiliki sifat yang sangat jauh berbeda. Yang pertama bernama Sebeji atau dikenal dengan sebutan Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka loba, merusak, pendengki, serakah dan sombong. Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu yang melebihi kesaktiannya. Akibat dari sifatnya itu, ia kurang disukai oleh masyarakat sekitar, sehingga sedikit sekali pengikutnya. Sementara seorang lainnya bernama Temenggung Marubai. Sifatnya sangat berbeda 180o  dari sifat Bujang Beji. Ia memiliki sifat tidak serakah, suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut bermata pencaharian berladang dan berkebun di samping yang lebih utama adalah menangkap ikan.
Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di kedua Simpang sungai tersebut jenisnya beraneka ragam dan jumlahnya sangat banyak. Namun dikarenakan cara menangkap ikan yang berbeda dari kedua pemimpin tersebut, tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.
Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan cara menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan bebatuan, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai. Dengan cara demikian, ikan-ikan di sungai di Simpang Melawi tidak akan pernah habis dan terus berkembang biak, dikarenakan ikan kecil yang dilepas tadi akan dibiarkan menjadi besar untuk ditangkap kembali.
Melihat keberhasilan Temenggung Marubai tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri hati terhadap Temenggung Marubai. Bujang Beji pun tidak mau kalah, ia pergi menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba (racun). Dengan cara itu, ia mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak dari saingannya. Pada awalnya, ikan-ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai. Namun, lambat laun, ikan-ikan di sungai Simpang Kapuas hampir habis, dikarenakan ia tidak menyadari bahwa menangkap ikan dengan cara menuba akan memusnahkan ikan, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati. Akibatnya, semakin hari hasil tangkapannya pun semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang tidak akan habis karena ikan-ikan kecil yang dilepas tadi selalu berkembang biak. Hal itu membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.
Sejenak ia merenung ”Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!” gumam Bujang Beji dengan geram. Iapun mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah sekian lama berpikir, ia pun menemukan suatu cara yang brilian, yakni menutup aliran ke Sungai Melawi dengan batu besar di hulu Sungai Melawi. Dengan demikian, aliran Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.
Setelah perhitungannya matang, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memotong puncak Bukit Batu yang besar itu dan dipiku dipundaknya . Karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, dengan kesaktiannya pula ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.
https://kapuasboy.files.wordpress.com/2011/09/bukit-kelam-3.jpeg?w=535Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara beberapa perempuan yang sedang menertawakannya.  Rupanya, tanpa disadari,  dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan tiba di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat terlihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri yang beracun.
”Aduuuhhh… !” jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.
Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang tadi terputus. Akibatnya, puncak bukit batu jatuh dan tenggelam di sebuah rantau ( sebuah cekungan berbentuk teluk berupa rawa) yang disebut Jetak. Dengan geram, Bujang Beji segera menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.
”Awas, kalian ! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya ke arah bukit sekitarnya untuk melepaskan duri beracun yang enempel di kakinya.
”Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.
Setelah duri itu terlepas, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rawa Jetak  itu. Namun, Bukit Batu itu sudah menancap sangat dalam pada rawa Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Bujang Beji pun akhirnya gagal memindahkan puncak Bukit Batu untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah
menertawakannya itu. Apa yang semua telah dilakukan Bujang Beji diketahui oleh Tumenggung Marubai. Tumenggung Murubai hanya diam dan tersenyum saja ketika mengetahui bahwa para dewi menertawakan sikap Bujang Beji.
Sementara itu Tumenggung Marubai dan anak buahnya seperti biasa, mengangkat bubu mereka dan dari beberapa tempat bubu yang mereka pasang berhasil menangkap banyak ikan. Dengan hasil dari menangkap ikan tersebut, kehidupan sehari-hari mereka kian hari menjadi lebih dan lebih baik. Bujang Beji menjadi semakin iri melihat keberhasilan Tumenggung Marubai dan marah kepada para dewi mentertawakan atas tindakannya.
Untuk dapat melaksanakan niat dendamnya, Bujang Beji kemudian menanam pohon Kumpang Mambu (kayu raksasa yang menjulang sampai ke langit) yang akan dipergunakan sebagai jalan ke Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya. Dalam hitungan beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dari bawah.
Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Beji melakukan upacara sesajen adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu upacara memberi makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan.
Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajennya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan Beruang. Mereka sangat kecewa, marah dan murka, karena merasa diremehkan dan tidak dihargai oleh Bujang Beji.
Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan. Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, mencapai kata mufakat untuk menggagalkan rencana Bujang Beji dengan cara menghancurkan pohon tersebut disaat Bujang Beji sedang memanjatnya.
Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar dan batang pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.
”Kretak… Kretak… Kretak… !!!” Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.
”Tolooong… ! Tolooong…. !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong. Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas, tepatnya daerah Kapuas Hulu, di antara Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itupun mati seketika. Maka gagal sudah usaha Bujang Beji untuk membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.
Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di
Sekitarnya  https://kapuasboy.files.wordpress.com/2011/09/bukit-kelam-21.jpeg?w=535 untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Kelam berarti warna gelap. Gelap adalah warna dari waktu malam. Itulah mengapa disebut Gunung Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap. Dasar gunung Nanga Silat yang puncaknya telah diangkat oleh Bujang Beji bernama Bukit Tanggul.
Tidak begitu jauh dari gunung di hulu Sungai Melawi Nanga Pinoh, kita dapat menemukan Batu Lintang. Berdasarkan cerita rakyat, Batu Lintang adalah bekas batu penahan untuk menempatkan bubu yang dibuat oleh Tumenggung Marubai, dan juga Batu Tinting yang terletak antara Wilayah Tempunak dan Sintang. Bila air sungai Kapuas menyusut, tiga-empat batu bisa dilihat dengan jelas.
CERITA DANAU SENTARUM, DANAU UNIK DAN LANGKA DI
 JANTUNG BORNEO


https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/untitled-1.jpg?w=374&h=227
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/dansen.jpg?w=375&h=283
Kawasan Danau Sentarum
Terletak di jantung Borneo atau tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kawasan Danau Sentarum yang merupakan komplek danau-danau  yang terdiri dari  20 buah danau besar kecil,  sejak tahun 1999 ditetapkan sebagai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan mempunyai luas 132.000 Hektar.  Berada 700 kilometer timur laut Kota Pontianak itu, TNDS terdiri atas 89.000 hektar hutan rawa tergenang dan 43.000 hektar daratan.
Danau Unik dan Langka
Danau Sentarum sungguh berbeda dengan danau ‘konvensional’ lainnya, sebab Danau Sentarum sejatinya adalah daerah hamparan banjir (lebak lebung /floodplain).  Dengan letak dan kondisinya yang berada di tengah-tengah jajaran pegunungan menjadikan kawasan ini sebagai daerah tangkapan hujan. Pada musim penghujan Komplek Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas yang merupakan Sungai terpanjang di Indonesia. Selama 9-10 bulan dalam setahun, kawasan Danau Sentarum akan terendam hingga kedalaman 6 – 14 meter.  Diperkirakan tersimpan 16 triliun meter kubik air per tahun di kawasan ini.  Dan uniknya pada musim kemarau panjang, sebagian besar danau menjadi kering.
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/untitled-7.jpg?w=392&h=238
Pada musim penghujan tergenang trilyunan meter kubik air
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/untitled-2.jpg?w=392&h=225
Pada musim kemarau menjadi hamparan kering dan terkadang ditumbuhi rumput laksana padang golf.
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/untitled-3.jpg?w=393&h=250
Hanya tersisa alur sungai kecil di tengahnya.
Hal inilah yang menjadikan kawasan Danau Sentarum merupakan salah satu tipe ekosistem hamparan banjir paling luas yang langka dan masih tersisa dalam kondisi baik di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/untitled-8.jpg?w=393&h=376
Salah satu pemandangan pemukiman masyarakat setempat di-shoot dari sudut yang sama.  Saat banjir dan surut.
Kekayaan Flora dan Fauna
Namun, bukan fenomena alam ini saja yang menjadi keunikan Danau Sentarum. Danau yang terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa dan tak dimiliki daerah lain. Tumbuhannya saja ada 510 spesies dan 33 spesies di antaranya endemik TNDS, termasuk 10 spesies di antaranya merupakan spesies baru. Hewan mamalia di TNDS ada 141 spesies. Sekitar 29 spesies di antaranya spesies endemik, dan 64 persen hewan mamalia itu endemik Borneo. Terdapat 266 spesies ikan, sekitar 78 persen di antaranya merupakan ikan endemik air tawar Borneo. Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum tercatat sebagai salah satu habitat ikan air tawar terlengkap di dunia.
Selain hutan yang bagus dan menjadi habitat lebah, TNDS juga menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Dari segi ukuran, misalnya, ada jenis ikan terkecil, yang dikenal dengan nama ikan Linut (sundasalanx cf. microps) berukuran 1-2 sentimeter dengan tubuhnya yang transparan seperti kaca, hingga ikan berukuran panjang dua meter seperti ikan Tapah dari genus Wallago.
Adapun ikan yang bernilai ekonomis dan di konsumsi warga, misalnya, ada ikan gabus, toman, baung, lais, belida, dan jelawat. Khusus ikan hias, di TNDS terdapat ikan silok atau Arwana (scleropages formosus) dan dan Ulang-uli (botia macracranthus) yang berhasil menembus pasaran internasional dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.  Pada kawasan ini tercatat paling tidak 120 jenis ikan,  serta terdapat beberapa jenis spesies yang hanya dimiliki oleh Danau Sentarum dalam artian tidak ditemukan di belahan dunia lain.
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/arwana.jpeg?w=382&h=252
Arwana/Siluk Merah
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/botia.jpg?w=373&h=190
Ulang Uli
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/tomistoma.jpg?w=381&h=242
Buaya kenyulung
Selain itu terdapat 31 jenis Reptilia.  Delapan jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi seperti Buaya Muara (Crocodylus porosus), Buaya Senyulung (Tomistoma schlegelli), Labi-labi, Ular, Biawak, dll. Bahkan Buaya Katak atau Buaya Rabin (Crocodylus raninus) yang di Asia telah dinyatakan punah masih diketemukan di kawasan ini.
The Last Paradise
Danau Sentarum juga menyuguhkan keindahan alam  yang tak terkira hingga dijuluki sebagai The Last Paradise.
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/scan0010.jpg?w=372&h=209
Suasana senja di salah satu sudut Danau
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/untitled-6.jpg?w=371&h=450
Lukisan alam di salah satu pemukiman masyarakat
Terancam punah
Namun keberadaan Danau Sentarum sepertinya akan terancam dengan adanya pembukaan hutan besar-besaran dengan dalih perkebunan atau illegal logging.
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/danau-sentarum-road1.jpg?w=370&h=247
https://dreamindonesia.files.wordpress.com/2012/02/kebun1.jpg?w=371&h=250
Hutan dibuka dipinggiran Sungai